6J2ltANIvHg90BMqkYINyuFLQgimMLFexOSJZtDW

Kasus Anak Ditempel Besi Panas lalu Dimasukkan ke Dalam Karung, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

Aksi kekerasan terhadap anak sekarang ini masih cukup marak terjadi, dan hal yang demikian sebaiknya segera diberantas karena akan merusak generasi masa mendatang.

Salah satu aksi keji yang dilakukan yakni seperti tindakan berikut, dimana anak-anak diperlakukan bagai sapi.

Usai melakukan gelar perkara penganiayaan terhadap anak di bawah umur berinisial NP (14), akhirnya penyidik Sat Reskrim Asahan'>Polres Asahan menetapkan lima orang tersangka.

Penetapan tersangka itu berdasarkan hasil keterangan korban maupun sejumlah saksi yang telah menjalani pemeriksaan.

Kelima orang yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka yaitu, WM, RS, EN, TS dan CP.

"Sudah dilakukan gelar perkara di sana, terhadap kasus yang terjadi telah memenuhi unsur pidana yaitu kekerasan terhadap anak," kata Kapolres Asahan, AKBP Nugroho Dwi Karyanto, Jumat (14/8/2020).

Para pemuda itu dinilai terbukti melakukan kekerasan terhadap NP, yang mereka tuduh sebagai pencuri handphone milik WM.

Para tersangka terancam dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak serta Pasal Pengeroyokan.

"Para pelaku, tiga merupakan anak di bawah umur, dan dua masuk kategori orang dewasa," sebut mantan Kapolres Natuna itu.

Sementara terkait tuduhan pencurian handphone terhadap korban, hingga kini belum dapat dibuktikan.

"Belum ditemukan bahwasannya yang bersangkutan mengambil hape milik salah satu pelaku," ujarnya

Pengusutan kasus bermula ketika ayah korban, Aron Panjaitan membuat laporan ke SPKT Asahan'>Polres Asahan pada 6 Agustus 2020.

Kepada petugas, Aron menyebutkan bahwa anaknya mengalami penganiayaan oleh lima orang pemuda yang usianya lebih tua beberapa tahun dari korban, pada Selasa (4/8/2020) malam di Desa Serdang, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan.

Penganiayaan itu terjadi lantaran korban dituduh mencuri handphone yang sedang dicharge oleh pemiliknya di Warnet Arnok.

Namun, tanpa bukti yang kuat WM dan sejumlah temannya langsung menuduh korban sebagai pencurinya. Alasannya, NP berada tidak jauh dari lokasi warnet.

"Dituduh curi hape, katanya hapenya lagi dicharger, cuma pas dilihatnya (pelaku) nggak ada lagi, dianggap orang itu anak saya si NP yang mengambilnya," kata Aron Panjaitan, Rabu (12/8/2020).

Saat itu, pelaku bersama beberapa kawannya langsung menginterogasi korban.

Korban yang bersikukuh tidak ada melakukan pencurian langsung dianiaya para pelaku, dengan cara menempelkan besi panas ke arah leher belakang NP.

Korban yang ketakutan langsung berlari masuk ke dalam rumah orang tuanya.

NP yang saat itu berada di rumah seorang diri, menjadi tambah ketakutan, karena tak lama kemudian para pelaku menggedor rumahnya.

Saat kejadian ayah korban tengah berada di luar daerah, ikut orang memanen padi. Sedangkan ibunya telah meninggal saat korban masih kecil.

"Selasa malam, jam 12 malam pelaku gedor-gedor rumah, masuk ke rumah, congkel jendela. Orang itu sempat obrak abrik isi rumah, tapi memang nggak ada ditemukan (handphone)," sebut Aron.

Pelaku yang merasa belum puas kemudian memasukkan NP ke dalam sebuah karung, lalu dibawa hingga ke arah simpang rumah korban yang berjarak sekitar 100 meter.

Di lokasi itu, korban kembali diinterogasi dan dipaksa untuk mengakui sebagai pencuri handphone yang hilang.

Tak sampai di situ, korban bahkan turut dipukuli oleh para pelaku.

"Pas kejadian saya lagi kerja di Tapanuli (Samosir). Kalau anak saya ini nggak sekolah lagi, cuma kelas 2 SD sekolahnya," ujarnya.

NP pun menceritakan awal dirinya dianiaya para pelaku. Korban yang sedang berada di depan warnet, secara tiba-tiba dituduh sebagai pencuri handphone, lalu dianiaya oleh para pelaku.

"Main-main di warnet, disangkanya aku yang ngambil. Dibuat (ditempel) besi semprot, dimasukkan ke dalam goni, baru diseret sampai ke simpang," ungkap NP.

(ind/tribun-medan.com)

Related Posts

Related Posts

Post a Comment