6J2ltANIvHg90BMqkYINyuFLQgimMLFexOSJZtDW

Sepakat Semuanya dan Baru Kali Ini Terjadi di Indonesia, Seluruh Kepala SMP Sekabupaten Mengundurkan Diri


Menjabat sebagai seorang guru merupakan salah satu tugas mulia, dan beberapa orang memang akan ditunjuk agar menjadi kepala Sekolah untuk memudahkan dalam pengendalian lembaga pendidikan itu sendiri.

Akan tetapi hal ini bukanlah tugas yang mudah, meski gaji lebih tinggi daripada guru biasa namun itu setara dengan tugas yang diembannya. Dan ketika mereka tidak kuat, maka hal semacam ini sangat mungkin terjadi.

Sebanyak 64 orang kepala sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau mengundurkan diri. Hal itu memicu keheranan banyak pihak, salah satunya Kepala Inspektorat Inhu Boyke Sitinjak.

"Saya baru mendengar bahwa di Indonesia ini ada seluruh kepala sekolah SMP sekabupaten yang mengundurkan diri," kata Boyke heran.

Inspektorat selidiki dugaan pemerasan


Terkait kejadian ini, pihak inspektorat akan segera memanggil para kepala sekolah untuk mengetahui penyebab pegunduran diri. Meski belum mendapatkan informasi lengkap, tetapi inspektorat memperoleh kabar mereka diperas oleh oknum tak bertanggung jawab.

"Di antaranya ada informasi bahwa mereka (kepala sekolah) dilakukan pemerasan oleh oknum dari penegak hukum. Ini merupakan informasi yang sangat berat, apakah ini benar-benar terjadi atau tidak, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Boyke. Inspektorat berjanji akan menyelidiki dugaan itu.

"Ini merupakan tantangan berat bagi Inspektorat bagaimana membangun daerah lebih baik dan lebih bersih," kata Boyke.

Dinas Terkejut


Tak hanya pihak inspektorat, pengunduran diri 64 kepala SMP di Inhu Riau itu juga mengejutkan pihak Dinas Pendidikan. Pelaksana tugas Dinas Pendidikan Inhu Ibrahim Alimin membenarkan adanya kejadian itu.

"Saya selaku Kepala Dinas sangat terkejut, karena kita baru masuk sekolah SMP pada 13 Juli 2020 kemarin di masa pandemi Covid-19 ini. Kemudian, ada ijazah-ijazah dan rapor yang harus ditandatangani," sebut Ibrahim.

Menurut Ibrahim, beberapa di antara mereka mendatangi Dinas Pendidikan Inhu. Para kepala sekolah tersebut menyerahkan banyak map berisi surat pengunduran diri.

Diduga Karena Tak Nyaman Kelola Dana BOS


Menindaklanjuti hal tersebut, Ibrahim kemudian mengonfirmasi pada perwakilan kepala sekolah. Menurut pengakuan, mereka tak nyaman mengelola dana BOS dan meminta menjadi guru biasa.

"Alasan mengundurkan diri, karena mereka mengaku merasa terganggu dan tidak nyaman mengelola dana bos. Sementara mereka mengelola dana bos kan tidak banyak. Ada yang dapat Rp 56 juta, Rp 53 juta dan ada Rp 200 juta per tahun," kata Ibrahim.

Belum Tentu Disetujui


Meski surat pengunduran diri telah diterima, Ibrahim tidak dapat memastikan apakah pengunduran diri mereka disetujui. Hal itu bergantung pada keputusan bupati.

"Apakah disetujui Bupati untuk pembebasan tugas itu tergantung pada Bupati nanti. Makanya saya sampaikan ke mereka jaga kondusifitas. Kemudian, sebelum keluar surat pembebasan tugas, saya mohon kepada mereka agar tetap bekerja, karena kasihan anak-anak kita. Tapi itu tergantung mereka lagi," kata Ibrahim.
Related Posts

Related Posts

Post a Comment