6J2ltANIvHg90BMqkYINyuFLQgimMLFexOSJZtDW

Memilukan! Kisah Laminten, Tinggal di Bekas Kamar Mandi Umum, 10 Tahun Lamanya


Namanya juga tempat kamar mandi umum dimana jelas tidak begitu terjaga kebersihannya, jauh dari kata layak untuk dijadikan sebagai rumah. Akan tetapi tidak bagi beberapa orang, dimana mereka cuman berpikiran bagaimana cara agar bisa bertahan hidup begitu saja. Seperti nenek ini misalnya.

Ada ungkapan bijak yang berbunyi, "Do not always look up to the sky, but try to give a time to look down.'' Yang berarti, jangan selalu melihat ke langit, tapi cobalah beri waktu untuk melihat ke bawah. Mungkin ungkapan ini terkesan sederhana namun sarat akan makna.

Betapa tidak, ada banyak hal yang patut kita syukuri dalam hidup ini, karena pada kenyataan dan lain sisi banyak orang-orang di luaran sana yang hidupnya memilukan bahkan cendrung berkekurangan.

Kisah haru ini datang dari seorang nenek yang bernama Laminten (74) tinggal di bangunan bekas kamar mandi umum di Lingkungan Krajan Barat, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Nenek malang ini terpaksa tinggal di sana karena tak memiliki rumah untuk ditempati.

Tentu pertanyaan pertama yang terbesit di pikiran kita adalah anaknya kemana? Anaknya tinggal dimana? Kenapa nenek ini bisa tinggal di sini? Dan akhirnya penuturan Laminten ini membuat bathin dan hati ini makin terenyuh.

"Saya sudah 10 tahun di sini, anak saya Mimin, menjual rumah dengan harga murah ke orang lain. Uang hasil penjualan rumah, saya juga tidak dapat. Saat itu saya bingung, dan menemukan kamar mandi dekat sumur ini untuk saya tinggali," Ungkap nenek Laminten penuh haru.

Bisa kita bayangkan bukan? Bagaimana jikalau kita posisikan diri kita dengan apa yang di alami Laminten yang tinggal di bekas kamar mandi umum. Tentu banyak bau tidak sedap yang dirasakan tiap harinya. Hal ini jugalah yang sering di rasakan oleh Laminten. Dan bagaimana mungkin bisa betah tidur dengan kondisi sekitar yang begini?

"Namanya juga kamar mandi umum, bisa dibayangkan, mulai dari bau, atapnya yang tidak layak. Tetapi karena bingung mau tinggal di mana, terpaksa tinggal di sini. Jadi saya kalau tidur harus melungker (menekuk). Tapi bagaimana lagi, ini saya syukuri. Daripada tidak punya tempat tinggal. Alhamdulillah warga sekitar, dengan keterbatasannya, masih mau membantu saya. Saya berterima kasih, karena dibantu warga sekitar, dibangunkan rumah dan lumayan untuk ditempati," ungkap Laminten dengan mata yang berkaca-kaca.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana agar bisa bertahan hidup?

Dengan kondisi yang demikian tidak serta merta membuat Laminten mengharapkan belas kasihan dari tetangganya. Berbekal kemampuan yang diperoleh Laminten tatkala muda dulu, yang mana semasa itu ia pernah bekerja memasak di salah satu pabrik rokok. Hal ini jugalah yang membuat ia memberanikan diri untuk berjualan nasi. Sehingga menjadi pintu rezeki bagi Laminten untuk bertahan hidup.

Lantas bagaimana dengan penghasilan yang ia peroleh perharinya? Tentu tidak pasti, dimana harga per porsi makanan cuma 5 ribu saja. Meskipun sudah memiliki pelanggan tetap, tidak jarang penghasilan Laminten perharinya hanya 25 ribu.

Referensi pihak ketiga

Lokasi rumah Laminten tak jauh dari jalan raya dekat perempatan lampu merah Gladak Kembar. Posisinya persis di belakang kios jamu tradisional. Akses satu-satunya hanyalah sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui satu motor dengan jarak kurang lebih 50 meter dari jalanan utama.

Dan akhir kata, semoga nenek Laminten tetap tabah dengan apa yang ia hadapi. Terimakasih untuk warga di sana yang tetap memperhatikan kondisi nenek Laminten dengan kepedulian yang semoga kelak di balas oleh Allah dengan pahala dan keberkahan rezeki yang berlipat ganda. Aamiin

Sumber Referensi :
News.detik.com/ Kisah Laminten, 10 Tahun Tinggal di Bekas Kamar Mandi Umum
Related Posts

Related Posts

Post a Comment