6J2ltANIvHg90BMqkYINyuFLQgimMLFexOSJZtDW

Kisah Pak Tan Semarang Hidup Tanpa Lambung dan Ginjal, 25 Tahun Mengidap Kanker Ganas


Tidak semua orang memiliki kondisi tubuh yang sempurna, memang pada awal kelahirannya memiliki bagian tubuh lengkap. Akan tetapi kalau tidak dirawat dengan baik malah akan berdampak buruk bagi tubuh sendiri.

Dan kalaupun memang sampai parah, tidak menutup kemungkinan keadaan seperti pria berikut.

Bunyi nada piano melantun merdu di sebuah rumah di Jalan Suyudono nomor 137 C Kelurahan Bulustalan Semarang Selatan, Senin (20/7/2020).

Di belakang piano tampak pria tua, jari-jarinya menari lincah di atas tuts piano.

Sesekali matanya terpejam, menghayati nada.

Saat mata kembali terbuka, matanya menatap ke deretan foto keluarga yang ditaruh di atas meja piano.

Pria tua itu adalah Tan Sing Tjwan (75), akrab dipanggil Pak Tan.

Seorang penyitas kanker yang selama 25 tahun ini bertahan dari gempuran sakit kanker yang menderanya.

Total telah lima kali ini ia menderita kanker.

"Musik adalah satu di antara hiburan dalam melewati hari dan masa-masa hidup yang 25 tahun ini saya habiskan untuk melawan kanker," ujarnya kepada Tribun Jateng.

Kakek empat cucu ini mulai menceritakan masa awal dia terdeteksi menderita kanker.

Dia mengetahui terkena kanker saat mengantar istrinya berobat ke Beijing China lantaran terkena kanker ganas di ususnya.

Pengobatan dilakukan hingga di negara tirai bambu selama tiga bulan.

Selepas menemani istrinya, Pak Tan disarankan seorang teman untuk ikut memeriksakan diri.

Ternyata ada kanker bersarang di pankreasnya.

Sempat tidak percaya, Pak Tan melakuan USG dan CT scan.

Hasilnya setelah dicocokan ternyata benar di pankreas ada benjolan asing.

Tindakan yang harus diambil ketika itu dirinya harus dioperasi.

Operasi dilakukan dengan memotong pankres 1/3 panjang totalnya.

Dia juga harus mengikuti kemoterapi beberapa tahun di Beijing.

"Waktu pertama mengetahui kena kanker itu saya umur 50 tahun saat itu tahun 1995," jelasnya.

Kanker kedua, dialami Pak Tan yang menyerang ke ginjal kirinya.

Dia menuturkan, kanker yang ada di ginjalnya berukuran lebih besar dari ginjal.

Dia ingat kala itu akan menikahkan anak perempuannya ketika kondisi tersebut di tahun 2009.

Beberapa lama kemudian, ada kerabat yang pergi ke Melaka Malasya.

Dia akhirnya ikut kesana untuk melakukan operasi.

"Ginjal kiri saya akhirnya diambil tepatnya di tahun 2009," katanya.

Selepas operasi pengangkatan ginjal, Pak Tan rutin melakukan pengobatan di rumah sakit di Semarang.

Dalam proses pengobatan tersebut, terdeteksi lagi ada kanker yang masih bersarang ditubuhnya, tepatnya di lever.

Dia menuturkan, dokter yang mengobatinya juga bingung kenapa bisa muncul kanker lagi.

Dokter menyarankan untuk pergi ke Kuala Lumpur Malaysia namun Pak Tan lebih memilih berobat ke rumah sakit umum di Guangzhou.

"Kena kanker berikutnya di lever pada tahun 2013, saya tempuh pengobatan kemoterapi saja beberapa tahun di Guangzhou," katanya.

Menurut Pak Tan, kanker di lever berhasil disembuhkan di Guangzhou.

Dia pun kemudian melanjutkan hidupnya seperti biasa.

Namun setelah pengobatan itu, dia merasakan sakit di perutnya secara terus menerus.

Dia lalu beriniasiatif memeriksakan diri ke rumah sakit Elizabeth Semarang di tahun 2017.

Hasil pemeriksaan ditemukan lagi kanker lambung.

Dokter menyarankan untuk operasi mengambil lambung.

"Lambung diangkat dulu baru dibiopsi ketauan ternyata primary cancer dari pankreas lagi."

"Itu pada tahun 2018 bertepatan saat istri meninggal."

"Fungsi lambung digantikan dengan usus kecil, jadi fungsi lambung digantikan usus," terangnya.

Efek dari tidak memiliki lambung, lanjut Pak Tan, porsi makannya saat ini terhitung sedikit sekira 2 sampai 3 sendok sekali makan.

Dalam sehari dia makan bisa sampai tiga kali dengan menu makan nasi dan sayur.

Tidak heran tubuhnya semakin kurus, saat pertama terkena kanker berat badannya dapat mencapai 70 kilogram.

Kini beratnya hanya sekira 40 kilogram.

"Setiap hari perut saya sakit, buat makan tidak enak, tetapi harus saya paksakan," ujarnya.

Selepas kehilangan lambung dan ginjal lantaran kanker.

Ternyata kanker tanpa ampun tetap bersarang di tubuh tua Pak Tan.

Di tahun 2018, dokter mendeteksi terdapat kanker di pankreas.

"Dokter bilang ke saya, kamu sudah tua pengobatan dengan kemoterapi saja, sejauh ini sudah dua kali kemoterapi," terangnya.

Pak Tan mengungkapkan, pengalaman yang menakutkan selama 25 tahun mengidap kanker yakni harus berhadapan dengan meja operasi berkali-kali.

Kendati demikian ia tetap menyatakan rasa syukurnya masih diberi umur panjang.

"Perjalan hidup dipenuhi penyakit kanker, namun Puji Tuhan masih diberi kesehatan," katanya.

Dia mengaku, bertahan selama 25 tahun ini hanya rutin melakukan pengobatan.

Sekaligus bermodal pasrah menyerahkan diri kepada yang maha kuasa.

"Harus berani hidup dalam kondisi apapun seperti harus hidup berjalan bersama-sama dengan kanker," terangnya.
Related Posts

Related Posts

Post a Comment